About

Dalam setiap tahapan kehidupan manusia diperlukan asupan gizi yang berbeda. Kebutuhan gizi ibu hamil berbeda dengan remaja maupun lansia. Kebutuhan gizi bayi baru lahir berbeda dengan kebutuhan gizi anak balita dan seterusnya. Masing-masing tahap kehidupan memiliki kadar kebutuhan gizi sesuai umur, aktivitas, lingkungan, sosial ekonomi dan keadaan fisiologis fungsi tubuh.

Pola makan dan kualitas makanan merupakan tantangan tersendiri karena kaitannya dengan kualitas gizi untuk tumbuh kembang atau siklus kehidupan generasi penerus. Di Indonesia, peningkatan kesehatan ibu dan anak yang mencakup isu perbaikan gizi telah ditetapkan sebagai salah satu tujuan pembangunan milenium (MDGs) 2015. Hal ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dan meluncurkan “Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan” (Gerakan 1000 HPK).

Sejauh ini, kita sudah terlalu sering mendengar wacana tentang 4 masalah gizi utama yang umum ditemui pada masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia, yaitu Kekurangan Energi dan Protein (KEP), Kekurangan vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKI). Dewasa ini, muncul pula permasalahan gizi yang baru. Seiring kemajuan teknologi, kita seolah dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ada. Jika ingin hiburan, tidak perlu kita pergi ke tempat wisata, cukup menghabiskan waktu berjam-jam dengan menonton televisi sembari ngemil dan leyeh-leyeh santai. Begitu juga dengan perilaku anak-anak sekarang, jarang yang kita temui bermain di lapangan atau di halaman rumah. Mereka lebih asyik berkutat dengan PSP atau online game di internet. Inilah yang disebut sedentary life style yaitu gaya hidup dimana seseorang kurang dalam aktivitas fisik.

Gaya hidup ini dapat memicu berbagai penyakit dan merusak penerapan konsep gizi seimbang dan mengiring kita ke dalam pola makan yang banyak mengandung monosakarida, tinggi lemak, rendah serat dan tinggi garam. Pola konsumsi seperti ini dapat mengganggu kesehatan, menyebabkan obesitas dan pada tahap berikutnya menyebabkan penyakit yang berkaitan dengan obesitas seperti masalah tidur seperti sleep apnea, gangguan menstruasi, kemandulan, hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, kolesterol tinggi, penyakit jantung, aterosklerosis, stroke, gangguan pernapasan, penyakit ginjal, radang sendi, gangguan fungsi hati, penyakit batu empedu, beberapa jenis kanker seperti kanker rahim dan kanker payudara.

Buku ini disusun untuk memperkaya basis kognitif untuk merangkai mata rantai gizi seimbang pada setiap tahapan kehidupan manusia sehingga terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Buku serupa dalam bahasa Indonesia yang telah ada dicetak dalam jumlah terbatas sehingga cukup sulit untuk mendapatkannya sebagai referensi. Di sisi lain, buku ajar perlu untuk selalu direvisi, terutama dalam hal informasi dan data gizi terbaru dan kesesuaian dengan program-program percepatan perbaikan gizi yang digulirkan. Buku ini tidak saja penting dipelajari oleh para mahasiswa ilmu kesehatan masyarakat, gizi, keperawatan atau kebidanan, dosen, dokter, tetapi juga penting untuk orang tua dan keluarga rumah tangga.

Advertisements